Sexy killers

Malam ini aku ikut acara Nobar Film SEXY KILLER. Sebuah film dokumenter karya Watchdoc.


Dalam perjalanan dari Tanjung Priok menuju lokasi di daerah Kalibata cukup melelahkan dan bikin stress. Soalnya, aku dan mamaku sempat berantem, karena kami kesasar.

Sesampainya dilokasi kami disambut dengan hangat. Kami berdua pun masuk dan langsung duduk ngeriung di dalam markas AJI Jakarta, yang dijadikan sebagai titik pertemuan untuk Nobar.

Tidak lama setelah kami sampai, mungkin sekitar 45 menit, pemutaran film dimulai. Sebelumnya hidangan ringan disajikan di depan kami, seperti jagung manis kukus dan ubi kukus.

Sambil mendengarkan diskusi awal, aku menguyah jagung manis yang sudah dipotong dua. Lampu mulai dimatikan, saat film diputar.

Untuk filmnya bisa ditonton disini SEXY KILLERS (Full Movie).

Diawal filmnya dimulai, hatiku sudah hancur berkeping-keping. Melihat orang yang meminum air sumur yang kotor.
Padahal biasanya ada gunung yang akan menyediakan air untuk warga-warga kapan saja.

Tapi... karna adanya tambang batu bara, gunung menjadi hancur karna adanya pengikisan. Banyaknya jumlah anak kecil yang juga mati karna tenggelam, di lubang bekas galian batu bara yang harusnya ditimbun kembali, juga selalu bertambah.

Ditengah film aku diperlihatkan rumah warga yang hancur dan menjadi miring karna adanya penurunan tanah.
Bahkan ada warga yang menyerah dan pindah begitu saja dan meningggalkan rumah dan juga tanah yang seharusnya menjadi kepemilikan warga itu sendiri.

Banyaknya rumah yang rusak dan juga hancur, serta korban jiwa yang harus mengungsi sudah tidak terhitung jumlahnya.

Di akhir film disitulah diungkap semua dalang dibalik kejadian ini.

Bagi yang tertarik untuk nonton filmnya bisa langsung di klik di link ini SEXY KILLERS (Full Movie).

Selesai menonton lampu dinyalakan kembali, waktu sudah menunjukan pukul 21.30 kami pun bergegas untuk pulang.

Aku menulis beberapa poin penting yang mungkin akan kuperlukan di buku Jurnalku.
Aku benar-benar tidak tahu, bahwa listrik yang aku gunakan sehari-hari, harus dibayar dengan pengorbanan dari saudara-saudaraku di pelosok sana. Dan banyak yang harus menderita karenanya.

Sebenarnya aku ikut acara ini, karena mama bilang, dari sini aku bisa belajar tentang saham.
Tapi, setelah menonton, aku malah jadi tertarik dengan politik dan cara kerja pemerintah.


Posting Komentar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates